10
Nov
09

Nasi dengan Matematika

Oleh : Annie Makkink

Penerjemah : Anne Lies Ranti

Di Kei kecil, sebuah pulau di sebelah selatan kepulauan Maluku, terdapat sebuah rumah makan dimana kita dapat makan nasi dengan ikan segar dan udang besar. Saya suka ke sana. Kita juga dapat memesan makanan untuk acara khusus seperti pesta dan pertemuan lainnya. Pada bagian belakangan ruangan, di atas meja yang merapat ke dinding, terdapat setumpuk kotak karton yang biasa digunakan sebagai wadah makanan pesanan.

Seorang gadis menerima pesanan makanan. Kemudian dengan cepat ia menghitung jumlah yang harus dibayar. Nama gadis itu Eva, bersekolah di sekolah lanjutan tingkat pertama. Ia tinggal bersama dengan neneknya di sini karena desanya hanya terdapat sekolah dasar.

Ketika para tamu sudah pulang, Eva mengambil buku matematikanya.”apakah kamu suka matematika?”tanya saya. “Mwah,” jawabnya sambil mengangkat bahu, tidak bersemangat. Hampir semua anak di Indonesia tidak menyukai matematika.”mati-matian” kata mereka. Mti berarti ahir kehidupan, jadi bisa diduga bagaimana pendapat mereka. Mereka harus berusaha sampai hampir mati jika belajar matematika.

“Saya punya soal yang menarik,” kata saya. “Dapatkah kamu menyusun sebuah bangunan seperti ini?” di atas selembar kertas kue, saya membuat gambar tampak depan dan tampak samping (lihat gambar d bawah).

Segera Eva menutup buku matematikanya. Sambil berpikir ia melihat sekelilingnya, dengan ragu ia mulai menggambar di atas selembar kertas. Ternyata tidak mudah, beberapa kali ia menghapus gambarnya. Saya menunjuk ke tumpukan kotak kosong yang terletak di atas meja di bagian belakangan ruangan itu. Segera Eva bangun melompat.itu tepat sekali! Sekarang ia dapat membuat bangunan secara nyata.

Seorang tamu masuk untuk memesan makanan, tapi Eva tidak punya waktu, bangunannya harus selesai dulu! Tamu baru ini mendekat dengan rasa ingin tahu. Juga beberapa tamu lainnya meninggalkan makanan mereka. Semua orang mulai ikut campur tangan mengerjakan bangunan itu.

Nenek melihat dari balik pintu dapur. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan terheran – heran. Tapi Eva tidak menengok, ia asyik mengerjakan bangunannya.

Selesai! Eva bertepuk tangan, dengan mata berkilau-kilau, wajah berseri, ia melihat kepada saya. Apakah sudah cocok? Para penonton sambil berjongkok untuk melihat bangunan itu dari berbagai sisi. Kemudian mereka mengangguk – angguk menyetujui. Cocok sekali!

“Dapatkah kamu mengambil kotak dari situ, tanpa merubah tampak bangunannya?” tanya saya, Eva mulai lagi, menggeser kotak dan menggambar. Semua orang ikut membantu. Akhirnya, masih tinggal beberapa kotak di atas meja, namun bangunan itu tetap memiliki tampak bangunan yang sama.

Berapa kardus yang digunakan? Carilah sendiri jawabannya. Kamu tidak memiliki kotak karton? Carilah di toko, di pasar atau kenapa tidak menggunakan kotak korek api.Batu bara? Juga bisa!


0 Responses to “Nasi dengan Matematika”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Koordinator

Blog Stats

  • 47,365 hits

Kalender

November 2009
S S R K J S M
« Okt   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Arsip


%d blogger menyukai ini: